Mini cerpen yang rada garing -.- maap yee
_________________________________________________
Bito tengah duduk di bangku depan kelasnya. Tangan kanannya membawa majalah yang covernya rada mencurigakan. Wajah Bito sepertinya ragu untuk membuka majalah itu. Tapi karena suasana sepi, Bito akhirnya membuka majalah itu. Dibacanya satu per satu dengan cepat, dia mencari rubik yang diinginkan. " Woy sob.." Axel datang sambil menenteng bola basket. Postur Axel memang pas untuk menjadi pemain bola basket. Tingginya 170 lebih, badannya emang keren, hidung mancung, kulitnya putih bersih yaah tipikal anak basket lah. Si Bito kaget sewaktu Axel datang, segera majalah itu di sembunyikan di dalam tasnya. " Yo sob, dengaren cepet.. yuk latihan sekarang." Bito berdiri dan langsung berlari ke lapangan disusul Axel.
Bito and Axel #1
Sabtu, 07 Mei 2011
Diposting oleh
Evita Widasari
di
22.27
0
komentar
Label: cerpen garing
For earth
Jumat, 06 Mei 2011
Aku memang kejam
Sangat kejam..Tapi mau bagaimana lagi?
Mereka lebih kejam lagi!
Tak pernah merawatku dan menjagaku
Mereka berbuat seenaknya padaku...
Hingga sekarang, mereka merasakan perbuatan mereka.
Mereka kini mengeluh, meronta, memohon padaku.
Tapi aku tetap angkuh.
Mereka baru menyadari bahwa teman-temanku sangatlah penting
Mereka berbondong-bondong menanam pohon. Temanku.
Mereka berupaya menyelamatkanku.
Aku tak tahu harus terharu atau tetap angkuh
Tapi ibaku muncul, kuberi mereka sedikit hujan.
Tubuhku mulai rapuh, tapi sekuat tenaga ku tahan untuk mereka.
Diposting oleh
Evita Widasari
di
03.06
0
komentar
Label: puisi
media meremukan hati
Kamis, 05 Mei 2011
Seperkian detik kucoba mengerti
Memahami...
Tapi beberapa detikpun aku tak kunjung paham...
Aku tau ini sangat sulit untuk dipahami..
Aku merasakannya,
Tapi tak mengerti pertanda apa itu?
Cinta?
Aku bosan dengar kata itu
Cinta, cinta, cinta
Banyak manusia bilang cinta itu menyakitkan
Mampu meremukan hati
Sebegitukah parahnya?
Tergelitik aku untuk mencoba cinta
Tapi, aku takut bila hatiku remuk
Remuk tak bisa disatukan kembali
Diposting oleh
Evita Widasari
di
23.03
0
komentar
Label: puisi




