Mini cerpen yang rada garing -.- maap yee
_________________________________________________
Bito tengah duduk di bangku depan kelasnya. Tangan kanannya membawa majalah yang covernya rada mencurigakan. Wajah Bito sepertinya ragu untuk membuka majalah itu. Tapi karena suasana sepi, Bito akhirnya membuka majalah itu. Dibacanya satu per satu dengan cepat, dia mencari rubik yang diinginkan. " Woy sob.." Axel datang sambil menenteng bola basket. Postur Axel memang pas untuk menjadi pemain bola basket. Tingginya 170 lebih, badannya emang keren, hidung mancung, kulitnya putih bersih yaah tipikal anak basket lah. Si Bito kaget sewaktu Axel datang, segera majalah itu di sembunyikan di dalam tasnya. " Yo sob, dengaren cepet.. yuk latihan sekarang." Bito berdiri dan langsung berlari ke lapangan disusul Axel.
Setelah berlari kesana kemari, loncat-loncatan kesana kemari, nggelsot-ngglesotan kesana kemari. Bito sama Axel akhirnya istirahat di depan kelas. " Eh Bit, aku tak keluar dulu ya. Cewekku udah didepan o." Bito cuman bisa ngangguk. Asik bisa ngelanjutin. Batin Bito sambil ketawa setan. Bito membuka majalahnya dan membuka lima lembar langsung. AHA! Senyum Bito mengembang karena berhasil nemuin halaman yang dia maksud. Dibaca satu per satu. " Bito, lo mbaca apaan?" Mata Bito membulat waktu dia dipergoki sama Axel. " Majalah bola kok.." Bodo banget si Bito. Masa majalah bola ada warna pink-nya. " He? Bola? Masa sih? Kok ada gambar ceweknya? Hayo yaa lo baca majalah p****" Wajah Axel berubah jadi rada genit genit gimana gitu. Hiiii
" Enak aja! Bukan tau.."
" Terus majalah apaan? Gue pinjem dong..."
" Nggak! NGGAK BOLEH!"
" Alaaah pelit lu ah."
Akhirnya si Axel ndapetin majalahnya si Bito. Belum ada lima menit baca, si Axel udah ketawa ngakak. " Etdaah elu sekarang bacaannya majalah cewek? Ckck, Bito Bito. Lo kan pemain basket, masa baca beginian sih?"
" Gue cuman nyari horoscope bro.." Wajah Bito udah kayak ubi rebus deh tapi Bito tetep njaga image-nya sebagai cowok cool.
" Tapikan tetep aja...hahahaha. Nggak keren lu." Axel memukul pelan bahu Bito.
" Tauk ah, males gue sama lo." Bito mengambil barang-barangnya, termasuk majalahnya dan berjalan kearah mobil.
Sejak itu Bito jarang ngomong karena takut diledekin. Takut ntar pamornya turun.haha
______________
Maaf kalo ceritanya rada nggak jelas. maklum pingin ngelawak tapi gagal -.-
kalo ada kesamaan tokoh. Harap minta maaf. karena ini cuman fiktif.okee
0 komentar:
Posting Komentar